MI NU Hidayatun Najah Gelar Seminar Parenting 2026, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Madrasah

TUBAN – MI NU Hidayatun Najah Tuban menggelar Seminar Parenting Tahun 2026 pada Sabtu (24/10/2026), bertempat di Gedung Hasyim Asy’ari lantai 2, Universitas Nahdlatul Ulama Ma’arif (UNUMA) Tuban. Mengusung tema “Dari Rumah ke Madrasah, Bersama Membentuk Generasi yang Berakhlakul Karimah dan Berprestasi”, kegiatan ini menjadi upaya madrasah untuk memperkuat sinergi antara orang tua dan sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang serta membentuk karakter peserta didik.


Acara diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ananda Saffanah Galby Muhaimin, siswi kelas 5A. Selanjutnya, seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathan, dan Mars Ma’arif.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Komite MI NU Hidayatun Najah, Ibu Marita Mas’udah. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendukung program-program madrasah. Komunikasi dan kerja sama yang baik antara wali murid dan pihak sekolah menjadi salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan pendidikan anak.


Kepala MI NU Hidayatun Najah, Ustadz Muhammad Nashruddin, S.Pd., dalam sambutannya mengajak para orang tua untuk menyelaraskan pola pendidikan di rumah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di madrasah. Pendidikan anak tidak cukup hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah, tetapi juga membutuhkan keteladanan, perhatian, dan pendampingan keluarga agar nilai-nilai kebaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Ketua PC LP Ma’arif NU Tuban, Bapak M. Syofiyan Yunus, M.Pd., menyoroti pentingnya pendidikan yang mampu menjawab tantangan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan pembentukan karakter. Kolaborasi antara lembaga pendidikan dan keluarga diperlukan agar anak tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga memiliki akhlak dan kepedulian sosial yang baik.

Pengawas MI Kecamatan Tuban, Bapak Samsul Huda, S.Pd., M.A., turut memberikan arahan mengenai pentingnya peningkatan kualitas pendidikan melalui keterlibatan seluruh unsur, termasuk guru dan orang tua. Lingkungan pendidikan yang kondusif perlu dibangun bersama agar peserta didik dapat belajar, berkembang, dan berinteraksi dengan baik.

Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah penandatanganan komitmen bersama pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) serta Deklarasi Satuan Pendidikan Ramah Anak. Langkah ini menjadi bentuk komitmen untuk menghadirkan lingkungan pendidikan yang mengedepankan kasih sayang, penghargaan terhadap anak, keamanan, dan pembentukan karakter positif.

Suasana acara semakin semarak dengan penampilan musikalisasi puisi oleh peserta didik dari ekstrakurikuler retorika MI NU Hidayatun Najah. Penampilan tersebut menjadi ruang bagi peserta didik untuk menunjukkan kreativitas sekaligus melatih keberanian dalam menyampaikan gagasan melalui seni.

Memasuki acara inti, seminar parenting menghadirkan Ibu Yuanita Rosalina Dewi, M.MKes., M.Psi., Psikolog Klinis, dengan materi mengenai sinergi orang tua dan madrasah, pengasuhan, pembentukan karakter positif, serta pendampingan anak agar mampu berkembang dan berprestasi.

Dalam pemaparannya, Ibu Yuanita menekankan bahwa rumah dan madrasah merupakan dua lingkungan yang saling melengkapi dalam membentuk kepribadian anak. Rumah menjadi tempat anak mengenal kasih sayang, nilai-nilai kehidupan, kebiasaan, tanggung jawab, dan cara mengelola emosi. Sementara itu, madrasah menjadi ruang bagi anak untuk mengembangkan pengetahuan, kedisiplinan, kemandirian, kerja sama, serta sikap menghargai perbedaan. Keselarasan antara kedua lingkungan tersebut penting agar anak memperoleh arahan dan pendampingan yang konsisten.

Para orang tua juga diajak memahami berbagai tantangan yang dihadapi anak pada masa kini, mulai dari penggunaan gawai dan derasnya arus informasi hingga tekanan prestasi serta persoalan dalam pergaulan. Anak tidak hanya membutuhkan tuntutan untuk berhasil, tetapi juga pendampingan yang membuat mereka merasa aman, dihargai, dan memiliki ruang untuk bercerita ketika menghadapi kesulitan.

Pembahasan turut menyoroti pentingnya pembentukan karakter melalui keteladanan dan pembiasaan. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kesantunan, kepedulian, dan amanah perlu ditanamkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua tidak cukup hanya memberikan nasihat, tetapi juga perlu menjadi contoh bagi anak dalam bersikap dan berperilaku.

Ibu Yuanita juga mengingatkan bahwa mendampingi anak bukan sekadar memberikan teguran ketika terjadi kesalahan. Kedekatan emosional, komunikasi yang baik, serta kemampuan orang tua memahami perasaan anak menjadi bagian penting dalam proses pengasuhan. Dengan pendekatan yang hangat namun tetap tegas, anak diharapkan lebih mudah menerima arahan dan belajar memperbaiki perilakunya.

Dalam hal prestasi, keberhasilan anak tidak semata-mata diukur dari nilai rapor. Kemandirian, kebiasaan belajar yang sehat, keberanian mencoba, serta kemampuan mengevaluasi kesalahan juga menjadi bagian penting dari proses perkembangan. Orang tua diharapkan mampu memberikan dukungan sesuai usia dan kemampuan anak, tanpa memberikan tekanan berlebihan.
Selain itu, penggunaan gawai perlu diatur melalui kesepakatan yang jelas, keteladanan orang tua, serta keseimbangan antara aktivitas digital, belajar, ibadah, istirahat, bermain, dan interaksi langsung. Pendampingan juga perlu  disesuaikan dengan tahap perkembangan anak agar tuntutan dan tanggung jawab yang diberikan tetap realistis.

Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing dan tanya jawab yang melibatkan wali murid. Tiga orang wali murid berkesempatan menyampaikan pertanyaan kepada pemateri terkait pengasuhan dan pendampingan anak. Sesi ini menjadi ruang bagi orang tua untuk menggali pemahaman lebih lanjut sekaligus mendapatkan perspektif dalam menghadapi berbagai situasi yang dijumpai saat mendampingi anak di rumah.
Sesi diskusi tersebut melengkapi rangkaian seminar dengan memberikan kesempatan kepada wali murid untuk berinteraksi langsung dengan pemateri. Melalui forum ini, orang tua diharapkan semakin memahami pentingnya pola pengasuhan yang tepat serta komunikasi yang selaras antara rumah dan madrasah.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Bapak Jamal Ghofir, S.Sos.I., M.A., selaku Wakil Rektor III UNUMA Tuban.

Melalui Seminar Parenting 2026, MI NU Hidayatun Najah berharap terbangun kesamaan pemahaman antara orang tua dan madrasah dalam mendampingi perkembangan anak. Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seminar, tetapi berlanjut dalam kebiasaan sehari-hari melalui komunikasi yang baik, keteladanan, dan pola pengasuhan yang konsisten.


Sejalan dengan tema yang diusung, pembentukan generasi yang berakhlakul karimah dan berprestasi membutuhkan keterlibatan bersama. Rumah dan madrasah memiliki peran yang saling melengkapi dalam menyiapkan anak agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.